Skip to main content

MAKALAH OCEAN ENERGY

MAKALAH OCEAN ENERGY
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dunia sedang menghadapi ancaman krisis energi global. Pernyataan ini bukan isapan jempol. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. Pernyataan itu jelas berlaku berpuluh-puluh tahun lalu. Bagaimana sekarang? Seperti banyak negara di dunia lainnya, Indonesia juga mengalami ancaman krisis energi. Ketersediaan sumber energi berbahan fosil tak mampu menyaingi pertumbuhan konsumsi energi yang rata-rata sebesar 7% setahun. Bukan tak mungkin, energi menjadi barang langka dan mewah di kemudian hari. Krisis energi memang sudah di depan mata. Namun, bersikap panik bukanlah solusi untuk mengantisipasinya. Sejumlah langkah antisipatif bisa menjadi solusi. Salah satunya adalah energi bersih yang bersahabat dengan alam. Energi bersih menjadi pilihan logis seiring makin menipisnya sumber energi berbahan fosil. Harapan pun menyeruak. Investasi energi bersih di dunia dari tahun ke tahun meningkat. Artinya, dunia setidaknya sudah peduli dan mau mengembangkan energi bersih. Plus, energi bersih mampu, setidaknya, menekan perubahan iklim dan pemanasan global. Soal energi bersih, Indonesia kembali dianugerahi bahan bakunya yang berlimpah. 
Energi surya (matahari), air, angin, atau yang bersumber dari aneka tumbuhan bisa ditemui di negara kepulauan ini. Potensi sudah ada, bagaimana dengan pengolahannya? Pertanyaan tersebut tidak harus tertuju pada satu pihak saja. Sebab, para pemangku kepentingan (stakeholders) di bidang energi beragam, seperti pemerintah, investor, praktisi lingkungan, akademisi, media massa hingga masyarakat umum. Yang jelas, para stakeholders itu mempunyai peranan masing-masing. Pemerintah, misalnya, berperan dalam mengambil kebijakan yang mendukung iklim investasi. Para investor, di pihak lain, bersedia untuk menanamkan modal atau alih teknologi. Kalangan akademisi pun bisa berkontribusi dalam riset dan penelitian. Media massa atau masyarakat luas juga bisa menyampaikan saran serta kritiknya. Perbedaan pola pikir atau cara pandang adalah hal lumrah dalam kehidupan kenegaraan.Asalkan, perbedaan itu tidak untuk menimbulkan perpecahan. Hal terpenting adalah semua pihak mengedepankan kepentingan bersama untuk mengembangkan energi bersih di tanah air.

Energi adalah kebutuhan mutlak manusia karena merupakan suatu kapasitas kerja,apapun yang kita lakukan selalu menggunakan energi, Kita berjalan ,bepergian ke suatu tempat, menyalakan lampu,mesin dan apapun itu semuanya menggunakan energi,baik itu listrik, heat, cahaya semuanya bisa dikonversi ke bentuk energi yang kita inginkan.Pernahkah kita membayangkan hidup tanpa energi? tinggal di gua gelap gulita, kedinginan di malam hari, kepanasan di siang hari, serta masih banyak lagi contoh pahit jika kita tidak menggunakan energi dalam hidup kita.

Konsumsi energi dunia yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia, hal ini menyebabkan konsumsi bahan bakar tidak terbarukan seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara semakin meningkat. Energi tak terbarukan ini banyak dimanfaatkan sebagai kebutuhan listrik untuk keperluan industri dan transportasi. Sementara proses pembentukan sumber energi tak terbarukan ini memerlukan waktu yang sangat lama, ribuan bahkan jutaan tahun lamanya, sedangkan kebutuhan energi terus meningkat dari tahun ke tahun. Seperti yang ditulis oleh British Petroleum (BP) Statistical Review of World Energy 2009 bahwa konsumsi energi dunia sampai dengan tahun 2008 menunjukkan grafik yang terus meningkat pada setiap tahunnya. Konsumsi batu bara setiap tahunnya meningkat tetapi konsumsi minyak bergerak lamban, sementara hilangnya pasar global untuk enam tahun terakhir, memaksa naiknya harga bahan bakar karena sedikitnya produksi yang dimiliki dunia, sedangkan pertumbuhan kebutuhan bahan bakar di dunia semakin bertambah. 

Menurut British Petroleum Statistical Review of World Energy 2009, konsumsi minyak pada tahun 2008 menigkat 18% dari tahun 2007. Tiga Negara yang memiliki konsumsi gas terbesar adalah China, Jepang dan Korea Selatan, tiga negara ini memiliki peran yang sangat besar untuk mengkonsumsi 30% gas dunia. Sementara itu menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Tehnologi (BPPT) kebutuhan energi di Indonesia pada tahun 2015 mendatang diprediksikan akan meningkat 3 kali lipat dari kebutuhan energi saat ini. Berdasarkan perkiraan Badan Pengkajian dan Penerapan Tehnologi (BPPT) kebutuhan energi tahun 2025 mendatang akan meningkat mencapai 1.700 juta SBM (setara barel minyak) atau tiga kali lipat kebutuhan tahun 2009.

1.2 Rumusan Masalah 
  1. Apa pengertian dari ocean energi?
  2. Mengapa krisis energi bisa terjadi?
  3. Apa saja energi alternatif di lautan?
  4. Bagaimana potensi energi laut di indonesia?
  5. Bagaimana sikap manusia yang seharusnya?
  6. Bagaimana cara mengatasi krisis energi?

1.3 Tujuan Penulisan 
Dengan adanya makalah ini kita dapat menambah ilmu tentang ocean energi mulai dari pengertiannya, penyebab terjadinya krisis energi, energi alternatif di lautan, potensi energi laut di indonesia, bagaimana kita seharusnya bersikap, dan cara mengatasi krisis energi.

1.4 Manfaat Penulisan 
Manfaat bagi para pembaca adalah menambah ilmu pengetahuan mengenai krisis energi dengan energi laut yang menjadi solusinya dan memudahkan mahasiswa lain yang ingin menncari sumber-sumber tentang ocean energi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ocean Energy
sebagai negara kepulauan terbesar dengan karakteristik alam yang luar biasa, Indonesia memiliki sumber energi alternatif laut yang berlimpah. Ocean energy resources yang dimiliki Indonesia bisa dibilang terbaik dan terbesar di dunia. Namun, upaya dalam mengembangkan energi alternatif ini belum dikaji secara serius. Cadangan minyak, sebagai sumber energi utama yang dimiliki Indonesia selama ini diperkirakan tinggal 25 tahun lagi. Selanjutnya, dari mana negara ini mendapatkan energi alternatif? Jawabannya adalah ada di laut. 

Wilayah Indonesia sekitar 7,7 juta kilometer persegi, terdiri dari 25 persen teritorial daratan (1,9 juta km2) dan 75 persen adalah teritorial laut (5,8 juta km2). Dari luas laut tersebut, 2,8 juta km2 merupakan perairan nusantara (perairan kepulauan) dan 0,3 juta km2 laut teritorial, serta 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Karena itu, ocean energy merupakan sumber energi baru yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Salah satunya listrik, di mana potensi energi laut ini mampu memenuhi empat kali kebutuhan dunia. Tidak mengherankan bila negara-negara maju berlomba memanfaatkan energi laut sebagai sumber energi alternatif.

Ocean energy merupakan merupakan salah satu sumber energi alternatif yang memiliki potensi yang sangat tinggi, untuk di Indonesia sekitar 727 ribu MW. Indonesia adalah negara keempat yang memiliki panjang pantai terbesar keempat setelah Amerika, Kanada, dan Rusia, yaitu sekitar 95.181 km menurut data PBB tahun 2008. Ocean energy memiliki keunggulan yaitu potensi energi yang sangat besar, tanpa limbah, dan dapat diperbaharui. Kebutuhan energi Indonesia yang saat ini mulai memasuki zaman industri, menjadi sangat besar ditambah dengan gempuran zaman digital yang memanfaatkan serba barang elektronik menjadikan konsumsi energi bertambah setiap tahun. Penggunaan energi fosil yang saat ini sangat populer dan utama, ternyata terdapat banyak kelemahan yaitu sumber daya tidak dapat diperbaharui dan yang paling parah yaitu mencemari lingkungan dengan hasil limbah dan residu yang dihasilkan. 

2.2 Mengapa krisis energi bisa terjadi?
Salah satu penyebabnya adalah terlalu besarnya ketergantungan penyediaan energi Indonesia pada bahan bakar minyak. Saat ini, sebagian besar sumber energi yang dieksploitasi di Indonesia berasal dari energi fosil, seperti minyak bumi dan batu bara. Sedangkan bila dilihat dari sisi supply, sumur-sumur minyak yang ada di Indonesia sudah sangat tua dan tidak layak lagi untuk dioperasikan. Ditambah lagi dengan semakin berkurangnya kegiatan eksplorasi menyebabkan semakin berkurangnya produksi minyak Indonesia. Penurunan kapasitas produksi ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1995, dengan penurunan tercepat terjadi sekitar tahun 2002.Melihat permasalahan krisis energi itu, harus ada penanganan yang lebih terarah agar krisis energi yang terjadi tidak semakin parah, karena ketika sumber energi tidak dapat diperoleh lagi maka banyak proyek-proyek industri, kegiatan pendidikan, sosial dan lain sebagainya yang akan terhambat. 

Dampak yang ditimbulkan dari krisis energi ini sudah mulai terasa di kalangan masyarakat. Khusunya masyarakat kelas menengah ke bawah. Krisis bahan bakar berbasis fosil ini telah berdampak pada melonjaknya harga bahan bakar. Tidak berhenti di situ saja. Akibat melonjaknya harga bahan bakar dengan berbagai macam produk turunannaya harga sembako ikut melambung. Akhirnya beban masyarakat semakin berat. Nasib masyarakatpun semakin menderita. Melihat dampaknya yang bisa semakin meluas mempengaruhi seluruh sektor kehidupan, pemerintah Indonesia sedang melakukan upaya-upaya penanggulangan krisis tersebut. Salah satu diantaranya adalah melakukan diversifikasi pemakaian sumber energi, dari yang semula hanya memanfaatkan energi fosil, lalu diperluas dengan memanfaatkan energi berbahan baku nabati sebagai sumber energi alternatif.

Bahan bakar nabati yang sedang dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif adalah tanaman jarak karena tanaman ini dapat diolah menjadi biofdiesel. Pengolahan 3 kg biji jarak akan menghasilkan satu liter biodiesel. Namun, yang masih menjadi kendala adalah konversi lahan untuk penanaman jarak, karena semakin menurunkan persentase lahan untuk pertanian yang pada akhirnya berdampak pada hasil pertanian yang dihasilkan. Hasil yang ditargetkanpun belum maksimal. Tercatat baru sekitar 5 % lahan yang baru terealisasikan sebagai lahan Jarak pada 2007 lalu (dari 600.000 hektar target, hanya tercapai 25.000 hektar). Kondisi seperti ini tentunya harus menjadi pemantik bagi para peneliti di Indonesia agar bisa dengan cepat menemukan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan bisa mengatasi krisis energi yang semakin mengkhwatirkan. Bila berharap pada bahan bakar fosil tentunya kita akan semakin sulit mengimbangi harga minyak dunia yang semakin melambung harganya. Karena pada saat ini Indonesia sudah mulai mengandalkan impor minyak dari negara lain. Tidak lagi sebagai negara pengekspor minyak seperti beberapa tahun lalu.

Proyek pembangunan reaktor nuklir pun sampai saat ini masih belum bisa terealisasikan. Disatu sisi ada keinginan dari para peneliti untuk segera membangun reaktor nuklir yang bisa dibunakan sebagai sumber energi listrik, namun di sisi lain belum adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkn proyek tersebut. Bila dibandingkan dengan Amerika Serikat atau India, seharusnya kita sebagai anak bangsa lebih bersemangat untuk mendukung pembuatan reaktor nuklir. Karena efisiensi yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan dengan penggunaan batubara atau minyak bumi. Mengenai limbah nuklir yang dikhawatirkan dapat merusak lingkungan, seharusnya sudah tidak dipermasalahkan lagi karena reaktor nuklir sudah mempunyai SOP (Standar of Procedure) yang mengatur pembuangan limbah tersebut agar tidak sampai mencemari lingkungan. Masyarakatpun tidak perlu khawatir dengan radiasi nuklir karena sekarang lapisan dinding reaktor sudah dibuat sedemikan hingga agar ketebalannya aman untuk digunakan.

Dengan demikian, dalam mengatasi krisis energi di Indonesia tidak cukup bila hanya mengandalkan satu sumber energi alternatif saja, kita harus bisa menemukan banyak sumber energi alternatif yang terbarukan agar pasokan bahan bakar dan listrik untuk dalam negeri bisa terjamin keberadaanya.

2.3 Energi Alternatif

Energi Pasang Surut (Tidal Energy)
Teknologi pembangkit listrik pasang surut (PLPS) mungkin sudah dikuasai penuh para ilmuwan di Indonesia. Karena, pada prinsipnya teknologi tersebut tidak berbeda dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), seperti yang diterapkan di waduk Jatiluhur dan waduk-waduk lainnya. Di mana air laut ketika pasang ditampung dalam suatu wilayah yang di bendung dan pada waktu pasang surut air laut dialirkan kembali ke laut. Pemutaran turbin dilakukan dengan memanfaatkan aliran air ketika masuk ke dalam dam dan ketika keluar dari dan menuju laut. Kendala utama penerapan teknologi PLPS ini ada dua. Pertama, pemerintah belum pernah memanfaatkan energi pasang surut untuk menghasilkan listrik, sehingga tenaga ahli Indonesia yang telah menguasai teknolgi pembangkit listrik tenaga air belum pernah merancang dan menerapkan atau membangun secara langsung dari awal. Kedua, untuk pembangunan wilayah ini akan merendam wilayah daratan yang luas. Apalagi bila harus merendam beberapa desa di sekitar muara atau kolam. Di sini akan muncul masalah sosial, bukan hanya masalah teknologi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan para ahli Indonesia untuk penerapan teknologi ini adalah efisiensi propeler ketika air masuk dan air keluar. Kalau di PLTA arah air penggerak turbin hanya satu arah, sedangkan pada pembangkit listrik pasang surut ini dari dua arah. Selain itu, yang patut menjadi perhatian, adalah material yang digunakan. Untuk air laut diperlukan material khusus disesuaikan dengan kadar garam dan kecepatan airnya.

Kapasitas listrik yang dihasilkan PLPS sebaiknya untuk kapasitas besar, di atas 50 Mega Watt, agar bisa ekonomis seperti PLTA. Sumber energi PLPS ini banyak berada wilayah timur Indonesia, mulai dari Ambon hingga ke Papua. Di wilayah ini kebutuhan listrik masih kecil dan membutuhkan power cable bawah laut yang sangat panjang untuk bisa membawa listrik ke pulau Sulawesi yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Di negara lain, beberapa pembangkit listrik sudah beroperasi menggunakan ide ini. Salah satu PLPS terbesar di dunia terdapat di muara sungai Rance di sebelah utara Prancis. Pembangkit listrik ini dibangun pada 1966, dengan kapasitas 240 Mega Watt. PLPS La Rance didesain dengan teknologi canggih dan beroperasi secara otomatis, sehingga hanya membutuhkan dua orang saja untuk pengo¬per¬asian pada akhir pekan dan malam hari. Sementara PLPS terbesar kedua di dunia terletak di Annapolis, Nova Scotia, Kanada dengan kapasitas yang mencapai 160 Mega Watt.

Energi Panas Laut (Ocean Thermal Energy Conversion)
Perbedaan temperatur di bawah laut sebenarnya telah menjadi ide pemanfaatan energi dari laut. Jika menyelam ke bawah permukaan, airnya akan semakin dingin. Temperatur di permukaan laut lebih hangat karena panas dari sinar matahari diserap air. Tapi, di bawah permukaan temperatur akan turun cukup drastis. Inilah sebabnya mengapa penyelam menggunakan pakaian khusus ketika menyelam jauh ke dasar laut. Pakaian tersebut dapat menangkap panas tubuh sehingga menjaga mereka tetap hangat.

Pembangkit listrik yang dapat memanfaatkan perbedaan temperatur tersebut untuk menghasilkan energi adalah Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC). Perbedaan temperatur antara permukaan yang hangat dengan air laut dalam yang dingin dibutuhkan minimal sebesar 77 derajat Fahrenheit (25 °C) agar dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik dengan baik. Adapun proyek-proyek demonstrasi dari OTEC sudah terdapat di Jepang, India, dan Hawaii.

Berdasarkan siklus yang digunakan, OTEC dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu siklus tertutup, siklus terbuka, dan siklus gabungan (hybrid). Pada alat OTEC dengan siklus tertutup, air laut permukaan yang hangat dimasukkan ke dalam alat penukar panas untuk menguapkan fluida, seperti amonia. Uap amonia akan memutar turbin yang menggerakkan generator. Selanjutnya, dikondensasi dengan air laut yang lebih dingin dan dikembalikan untuk diuapkan kembali. Pada siklus terbuka, air laut permukaan yang hangat langsung diuapkan pada ruang khusus bertekanan rendah. Kukus yang dihasilkan digunakan sebagai fluida penggerak turbin bertekanan rendah. Kukus keluaran turbin selanjutnya dikondensasi dengan air laut yang lebih dingin dan sebagai hasilnya diperoleh air desalinasi. Pada siklus gabungan, air laut yang hangat masuk ke dalam ruang vakum untuk diuapkan dalam sekejap (flash-evaporated) menjadi kukus (seperti siklus terbuka). Kukus tersebut kemudian menguapkan fluida kerja yang memutar turbin (seperti siklus tertutup). Selanjutnya kukus kembali dikondensasi menjadi air desalinasi.

Fluida kerja yang populer digunakan adalah amonia karena tersedia dalam jumlah besar, murah, dan mudah ditransportasikan. Namun, amonia beracun dan mudah terbakar. Senyawa seperti CFC dan HCFC juga merupakan pilihan yang baik. Sayang, menimbulkan efek penipisan lapisan ozon. Hidrokarbon juga dapat digunakan, akan tetapi menjadi tidak ekonomis karena menjadikan OTEC sulit bersaing dengan pemanfaatan hidrokarbon secara langsung. Selain itu, yang juga perlu diperhatikan adalah ukuran pembangkit listrik OTEC bergantung pada tekanan uap dari fluida kerja yang digunakan. Semakin tinggi tekanan uapnya maka semakin kecil ukuran turbin dan alat penukar panas yang dibutuhkan. Sementara ukuran tebal pipa dan alat penukar panas bertambah untuk menahan tingginya tekanan terutama pada bagian evaporator.

Kelebihan dari OTEC adalah penggunaannya tidak menghasilkan gas rumah kaca ataupun limbah lainnya, tidak membutuhkan bahan bakar, biaya operasi rendah, dan produksi listrik stabil. Di samping itu, penggunaannya juga dapat dikombinasikan dengan fungsi lainnya, seperti menghasilkan air pendingin, produksi air minum, suplai air untuk aquaculture, ekstraksi mineral, dan produksi hidrogen secara elektrolisis. Sementara kekurangannya, adalah belum ada analisa mengenai dampaknya terhadap lingkungan. Terlebih, jika menggunakan amonia sebagai bahan yang diuapkan menimbulkan potensi bahaya kebocoran. Belum lagi biaya pembangunannya yang tidak murah.

Energi Gelombang Laut (Wave Energy)
Peneliti Universitas Oregon, AS mempublikasikan temuan teknologi terbarunya yang diberi nama Permanent Magnet Linear Buoy. Nama Buoy karena pada prinsip dasarnya teknologi terbaru tersebut dipasang untuk memanfaatkan gelombang laut di permukaan. Berbeda dengan Buoy yang digunakan untuk mendeteksi gelombang laut yang menyimpan potensi tsunami.

Peneliti Oregon menjelaskan prinsip dasar Buoy penghasil listrik, yaitu dengan mengapungkannya di permukaan. Gelombang laut yang terus mengalun dan berirama bolak-balik dalam Buoy akan diubah menjadi gerakan harmonis listrik. Sekilas bila dilihat dari bentuknya, Buoy ini mirip dengan dinamo sepeda. Bentuknya silindris dengan perangkat penghasil listrik pada bagian dalamnya. Buoy diapungkan di permukaan laut dengan posisi sebagian tenggelam dan sebagian lagi mengapung. Kuncinya, terdapat pada perangkat elektrik berupa koil (kuparan yang mengelilingi batang magnet di dalam Buoy). Saat ombak mencapai pelampung, maka pelampung tersebut akan bergerak naik dan turun secara relatif terhadap batang magnet sehingga bisa menimbulkan beda potensial dan listrik dibangkitkan. Dalam percobaan sistem ini diletakkan kurang lebih satu atau dua mil laut dari pantai. Kondisi ombak yang cukup kuat dan mengayun dengan gelombang yang besar akan menghasilkan listrik dengan tegangan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Universitas Oregon, setiap pelampung mampu menghasilkan daya sebesar 250 kilowatt.

Penjelasan di atas menggunakan teknik koil yang bergerak naik turun, tetapi bisa juga dengan teknik batang magnet yang bergerak naik turun. Pilihan kedua dengan menggunakan pelampung, penempatan koil dan batang magnet bisa juga ditempatkan di dasar atau di permukaan laut. Dibandingkan dengan energi angin atau matahari, energi gelombang laut kerapatannya jauh lebih tinggi. Peneliti yang sama dari OSU, Alan Wallace menyebutkan penyediaan energi gelombang ini dengan hanya 200 Buoy yang diapungkan, satu buah pelabuhan atau kota besar seperti Portland yang besarnya hampir dua kali Jakarta, sudah dapat memanfaatkan energinya dengan sangat melimpah tanpa harus menarik bayaran. Di samping nilai ekonomis yang cukup menjanjikan ada hal-hal lain yang dapat memberikan keuntungan di bidang lingkungan hidup. 

Energi ini ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi suara, emisi CO2, maupun polusi visual dan sekaligus mampu memberikan ruang kepada kehidupan laut untuk membentuk koloni terumbu karang di sepanjang jangkar yang ditanam di dasar laut. Pada kasus-kasus seperti ini biasanya lebih menguntungkan karena ikan dan binatang laut selalu lebih banyak berkumpul.

Penempatan Buoy dengan ukuran yang tidak terlalu besar juga tidak mengganggu pelayaran. Rata-rata dengan besar Buoy kurang dari dua meter, kapal besar atau kecil bisa melihat objek tersebut dan dapat menghindarinya.

Energi Ganggang Laut
Alga atau dikenal sebagai tanaman ganggang termasuk tumbuhan yang bisa hidup di perairan mana saja. Selain tidak memerlukan air tawar untuk tumbuh, alga juga dapat ditanam di lahan yang tidak subur, dan perairan laut dangkal yang banyak terdapat di Indonesia. Walaupun tidak memerlukan lahan luas, potensi hayati yang dimiliki alga dinilai luar biasa oleh para ahli biologi. Beberapa waktu lalu, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan akan mengambil sumber hayati tersebut sebagai salah satu cadangan untuk menggantikan BBM fosil, yang dalam waktu tidak lama diperhitungkan akan habis dari perut bumi. Dalam operasionalnya, mikroalga menggunakan sinar matahari, air dan karbon dioksida untuk menghasilkan oksigen dan biofuel melalui fotosintesis. Tanaman, yang tampak tumbuh di permukaan air ini dapat dibudidayakan pada lahan marjinal atau di mesin-mesin khusus yang disebut inkubasi photobioreactors, yang menggunakan emisi karbon dioksida dari industri makanan.

Sesuai dengan hasil penelitian, ganggang disebut-sebut lebih produktif daripada tanaman lain karena mereka terus membuat bahan bakar terlepas dari cuacanya. Semua kebutuhan bahan bakar transportasi Amerika Serikat secara teori bisa dipenuhi oleh ganggang yang dibudidayakan di suatu daerah seukuran nagara Belgia. Tanaman ini merupakan salah satu “generasi kedua” dari , yang dirancang untuk mengatasi kekurangan bahan bakar dari biji-bijian. Hebatnya, selain bisa dimanfaatkan sebagai biofuel atau bahan bakar minyak, alga juga ternyata bisa menjadi sumber listrik yang potensial dan cukup berharga bagi kehidupan masa depan manusia. Para ahli bioelektro dariStan-ford University (AS) dan Yonsei University , Seoul, Korea Selatan beberapa waktu lalu ternyata berhasil menemukan sumber energi listrik masa depan yang dihasilkan dari sel alga. 

Tanaman sederhana yang selama beberapa tahun diteliti oleh para ahli gabungan dari perguruan tinggi terkenal di kedua negara itu, mampu menghasilkan energi listrik. Sumber energi listrik dari tanaman sederhana ini sangat spektakuler karena bisa dikembangkan menjadi sumber listrik yang lebih besar untuk kebutuhan yang lebih luas dan lebih ekonomis. Dalam proses fotosintesis tanaman, ada proses konversi sinar matahari menjadi energi kimia. Ini merupakan langkah awal untuk menghasilkan energi listrik berefisiensi tinggi. Dari sel yang berfotosintesis inilah elektroda elektron dikumpulkan. Kemudian secara tidak langsung diberi energi dari cahaya matahari hingga menghasilkan arus listrik kecil.

Pada tahap penelitian ilmiah itu, Prof Ryu, rekannya dari Yonsei University membuktikan bisa memanen elektron listrik. Tanaman menggunakan fotosintesis untuk mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, yang kemudian disimpan dalam ikatan gula yang mereka gunakan untuk makanan. Proses ini berlangsung dalam kloro-plas. Sinar matahari yang menembus kloroplas dan elektron, mengu¬bahnya ke tingkat energi yang tinggi. Sementara rangkaian protein, secara cepat meraih mereka dan mengubahnya jadi listrik.

Elektron diturunkan pada serangkaian protein, yang berturut-turut menangkap lebih banyak energi elektron untuk mensintesis gula hingga semua elektron dihabiskan. Dalam penelitian ini, para peneliti menyadap elektron setelah mereka “dimasak” oleh cahaya dan berada di tingkat tertinggi energi. Mereka meletakkan elektroda emas dalam kloroplas sel alga, dan elektronnya dipindahkan untuk menghasilkan arus listrik kecil.

Produk sampingan dari fotosintesis adalah proton dan oksigen. Ini berpotensi jadi salah satu sumber energi bersih untuk pembangkit listrik. Yang jadi pertanyaan adalah, sampai sejauh mana tingkat ekonomisnya bila dieksploitasi secara besar? Untuk membangkitkan energi, ditarik elektron dari setiap sel hanya satu picoampere. Jumlah listrik yang sangat kecil ini, masih bisa diperkaya dengan photosyn-thesizing triliun sel selama satu jam. Pada tahap awal ini, energi yang dihasilkan hanya untuk menyamai energi yang tersimpan dalam baterai.

Energi Ombak
Ombak dihasilkan oleh angin yang bertiup di permukaan laut. Sesungguhnya ombak merupakan sumber energi yang cukup besar, namun, untuk memanfaatkan energi yang terkandungnya tidaklah mudah; terlebih lagi mengubahnya menjadi listrik dalam jumlah yang memadai. Inilah sebabnya jumlah pembangkit listrik tenaga ombak yang ada di dunia sangat sedikit.

Salah satu metode yang efektif untuk memanfaatkan energi ombak adalah dengan membalik cara kerja alat pembuat ombak yang biasa terdapat di kolam renang. Pada kolam renang dengan ombak buatan, udara ditiupkan keluar masuk sebuah ruang di tepi kolam yang mendorong air sehingga bergoyang naik turun menjadi ombak.Pada sebuah pembangkit listrik bertenaga ombak (PLTO), aliran masuk dan keluarnya ombak ke dalam ruangan khusus menyebabkan terdorongnya udara keluar dan masuk melalui sebuah saluran di atas ruang tersebut (Lihat gambar 1). Jika di ujung saluran diletakkan sebuah turbin, maka aliran udara yang keluar masuk tersebut akan memutar turbin yang menggerakkan generator. Masalah dengan desain ini ialah aliran keluar masuk udara dapat menimbulkan kebisingan, akan tetapi, karena aliran ombak pun sudah cukup bising umumnya ini tidak menjadi masalah besar.

Setelah selesai dibangun, energi ombak dapat diperoleh secara gratis, tidak butuh bahan bakar, dan tidak pula menghasilkan limbah ataupun polusi. Namun tantangannya adalah bagaimana membangun alat yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca buruk di laut yang terkadang sangat ganas, tetapi pada saat bersamaan mampu menghasilkan listrik dalam jumlah yang memadai dari ombak-ombak kecil (jika hanya dapat menghasilkan listrik ketika terjadi badai besar maka suplai listriknya kurang dapat diandalkan).

Beberapa perusahaan yang mengembangkan PLTO versi komersial sesuai dengan metode yang dijelaskan di atas antara lain: Wavegen dari Inggris, dengan prototipnya yang bernama LIMPET dengan kapasitas 500 kW di pantai barat Skotlandia, dan Energetech dari Australia yang sedang mengusahakan proposal proyek PLTO berkapasitas 2 MW di Rhode Island.

Selain metode yang telah dijelaskan, beberapa perusahaan & institusi lainnya mengembangkan metode yang berbeda untuk memanfaatkan ombak sebagai penghasil energi listrik:
• Ocean Power Delivery; perusahaan ini mendesain tabung-tabung yang sekilas terlihat seperti ular mengambang di permukaan laut (dengan sebutan Pelamis) sebagai penghasil listrik. Setiap tabung memiliki panjang sekitar 122 meter dan terbagi menjadi empat segmen. Setiap ombak yang melalui alat ini akan menyebabkan tabung silinder tersebut bergerak secara vertikal maupun lateral. Gerakan yang ditimbulkan akan mendorong piston diantara tiap sambungan segmen yang selanjutnya memompa cairan hidraulik bertekanan melalui sebuah motor untuk menggerakkan generator listrik. Supaya tidak ikut terbawa arus, setiap tabung ditahan di dasar laut menggunakan jangkar khusus.
  • Renewable Energy Holdings; ide mereka untuk menghasilkan listrik dari tenaga ombak menggunakan peralatan yang dipasang di dasar laut dekat tepi pantai sedikit mirip dengan Pelamis. Prinsipnya menggunakan gerakan naik turun dari ombak untuk menggerakkan piston yang bergerak naik turun pula di dalam sebuah silinder. Gerakan dari piston tersebut selanjutnya digunakan untuk mendorong air laut guna memutar turbin.
  • SRI International; konsepnya menggunakan sejenis plastik khusus bernama elastomer dielektrik yang bereaksi terhadap listrik. Ketika listrik dialirkan melalui elastomer tersebut, elastomer akan meregang dan terkompresi bergantian. Sebaliknya jika elastomer tersebut dikompresi atau diregangkan, maka energi listrik pun timbul. Berdasarkan konsep tersebut idenya ialah menghubungkan sebuah pelampung dengan elastomer yang terikat di dasar laut. Ketika pelampung diombang-ambingkan oleh ombak, maka regangan maupun tahanan yang dialami elastomer akan menghasilkan listrik.
  • BioPower Systems; perusahaan inovatif ini mengembangkan sirip-ekor-ikan-hiu buatan dan rumput laut mekanik untuk menangkap energi dari ombak. Idenya bermula dari pemikiran sederhana bahwa sistem yang berfungsi paling baik di laut tentunya adalah sistem yang telah ada disana selama beribu-ribu tahun lamanya. Ketika arus ombak menggoyang sirip ekor mekanik dari samping ke samping sebuah kotak gir akan mengubah gerakan osilasi tersebut menjadi gerakan searah yang menggerakkan sebuah generator magnetik. Rumput laut mekaniknya pun bekerja dengan cara yang sama, yaitu dengan menangkap arus ombak di permukaan laut dan menggunakan generator yang serupa untuk merubah pergerakan laut menjadi listrik.
Secara ringkas, kelebihan dan kekurangan pembangkit listrik berenergi ombak yaitu:

Kelebihan:
  • Energi bisa diperoleh secara gratis.
  • Tidak butuh bahan bakar.
  • Tidak menghasilkan limbah.
  • Mudah dioperasikan dan biaya perawatan rendah.
  • Dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang memadai.
Kekurangan:
  • Bergantung pada ombak; kadang dapat energi, kadang pula tidak.
  • Perlu menemukan lokasi yang sesuai dimana ombaknya kuat dan muncul secara konsisten.
2.4 Potensi Energi Laut di Indonesia
Energi samudra ada tiga macam, yaitu energi heat laut, energi pasang surut, dan energi gelombang. Di Indonesia, potensi energi samudera sangat besar karena Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.000 pulau dan garis pantai sepanjang 81.000 km dan terdiri dari laut dalam dan laut dangkal. Ketiga energi samudra di atas di Indonesia masih belum terimplementasikan karena masih banyak faktor sehingga sampai saat ini masih taraf wacana dan penelitian. Bisa dilihat pada bahwa potensi energi gelombang di Indonesia rata-rata sebesar 15 – 25 kW/m terutama di pantai selatan pulau Jawa. Sedangkan untuk energi heat samudra, Indonesia yang terletak di garis katulistiwa mempunyai perairan laut dengan gradien suhu yang cukup besar yaitu sekitar 20 – 24 oC . 

-OTEC Ocean Sustainable Energy
Prinsip energi heat laut yaitu dengan menggunakan beda temperatur antara temperatur di permukaan laut dan temperatur di dasar laut, energi pasang surut dengan menggunakan prinsip beda ketinggian antara laut pasang terbesar dan laut surut terkecil, sedangkan energi gelombang adalah dengan menggunakan prinsip besar ketinggian gelombang dan panjang gelombang. Dengan prinsip-prinsip di atas, maka dengan menggunakan turbin akan dihasilkan energi listrik.

Sinar matahari yang jatuh pada permukaan laut dengan kuatnya diserap oleh air yang secara efektif seluruh dari energi ini ditahan diantara laut dangkal ”mixed layer” pada permukaan,35m hingga kedalaman 100 m,dimana pengaruh angin dan gelombang menyebabkan temperatur dan salinitas menjadi sama.Di wilayah dari laut tropis diantara 15 lintang utara dan 15 derajat lintang selatan,heat diserap dari matahari yang menghangati air di lapisan pencampuran pada suatu nilai temperatur 28 o C yang hampir konstan pada siang ke malam hari,dari bulan ke bulan. Temperatur rata-rata tahunan dari mixed layer di semua wilayah berkisar pada suhu 27 o C hingga 29 o C Dibawah mixed layer,air menjadi lebih dingin seiring bertambahnya kedalaman pada 800 m hingga 1000m,dan temperatur dari 4,4 o C pun dicapai.Dibawah kedalaman ini,temperatur turun hanya beberapa derajat saja lebih jauh ke dasar laut pada kedalaman rata-rata 3650m.Sehingga,tempat penyimpanan yang besar dari air dingin terdapat dibawah kedalaman 3000 ft.

Air dingin ini merupakan penumpukan dari iced-cold water yang meleleh dari wilayah kutub.Oleh karena dari densitas yang semakin tinggi dan pencampuran minimal dengan air yang lebih hangat diatas, air dingin mengalir sepanjang dasar laut berasal dari kutub menuju ekuator,menggantikan densitas yang lebih rendah dari permukaan air diatas.Hasil dari dua proses fisik telah menciptakan struktur laut yang memiliki tempat penyimpanan air hangat pada permukaan dan sebuah tempat penyimpanan air dingin di dasar laut.Dengan perbedaan temperatur 22 hingga 25 o C. Proses OTEC menggunakan temperatur ini untuk mengoperasikan mesin penukar heat ,dimana dapat menghasilkan listrik. Potensi energi heat laut di Indonesia diprediksi bisa menghasilkan daya sekitar 240.000 MW,

sedangkan untuk energi pasang surut dan energi gelombang masih sulit diprediksi karena masih banyak ragam penelitian yang belum bisa didata secara rinci.

-Benefit Lingkungan dan “Produk Samping” Teknologi OTEC
Sebagai sumber energy terbarukan dan ramah lingkungan, penggunaan OTEC mengurangi dampak buruk penggunaan energy fosil seperti pembukaan lahan untuk ekploitasi, emisi gas buang bahan bakar fosil dan limbah lain yang dihasilkan, dan secara ekologi berdampak positif karena akan memperkaya nutrisi pada permukaan air laut. Namun begitu, belum ada analisa komprehensif dampak pengembangan fasilitas OTEC terhadap lingkungan.

Walaupun biaya investasi awal OTEC masih dipandang terlalu mahal, namun riset termutakhir menunjukkan berbagai potensi produk samping OTEC yang bermanfaat, sehingga dapat meningkatkan nilai ke-ekonomian dari teknologi OTEC. “Produk Samping” dari OTEC tersebut antara lain :
  1. Pendingin suhu permukaan. Konsepnya adalah residu air dingin yang dipompakan dari dasar laut dapat digunakan untuk mendinginkan suhu permukaan dan mengurangi efek pemanasan global, apalagi suhu daerah tropis yang panas. Aplikasinya bisa bermacam-macam, mulai dari penggunaan sebagai air conditioner pemukiman warga, dapat juga sebagai aplikasi pertanian dan perikanan, sehingga dimungkinkan pembudidayaan produk yang membutuhkan suhu sejuk dalam proses pembudidayaannya. Selain itu dapat dikurangi efek buruk naiknya temperatur permukaan seperti badai.
  2. Air tawar. Air tawar yang dihasilkan dari proses vaporisasi dan kondensasi dapat digunakan sebagai konsumsi atau irigasi pertanian terutama untuk pulau kecil sekitar fasilitas yang sulit mendapat akses air tawar.
  3. Nutrisi air laut dalam. Air laut dalam kaya akan nutrient dan rendah pathogen, sehingga sangat baik untuk budidaya organisme laut.

-Potensi Pengembangan OTEC di Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak di daerah tropis, di mana perairan di wilayah Indonesia umumnya memiliki perbedaan suhu air permukaan dan laut dalam yang sangat tinggi, serta memiliki intensitas gelombang laut dan kemungkinan badai yang kecil, sehingga sangat cocok dalam pengembangan teknologi OTEC. potensi panas yang dihasilkan panas laut sebesar 2,5 x 1023 joule dengan efisiensi listrik 3 persen atau hampir setara 240.000 MW. Perbedaan temperatur antara permukaan dan dasar laut Selain itu, demografi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil atau daerah pesisir terpencil masih belum tersentuh pengembangan infrastruktur listrik, yang memang sulit mengembangkan pembangkit di daerah seperti itu. Dengan pengembangan infrasturktur dan hasil sampingannya seperti ini, diharapkan pembangunan bangsa juga dirasakan di daerah rural, dengan lebih merata.

Tipikal laut Indonesia dalam dan mempunyai perbedaan temperature tinggi . Sehingga OTEC dapat dikembangkan di daerah selatan Pulau Sumatra, Jawa, dan Bali untuk pengembangan dengan pasar yang besar dan hampir di seluruh kepulauan daerah Indonesia tengah dan timur untuk menjangkau daerah rural dengan pasar yang kecil. Beberapa pihak swasta di Indonesia sebenarnya telah mengembangkan teknologi ini hingga mencapai tahap komersial, namun jumlahnya masih terbatas sehingga pemanfaatan teknologi ini belum memberikan andil yang besar. Di samping itu perlu adanya perhatian dan keterlibatan dari pemerintah yang besar untuk pengembangan dan pemanfaatan energi alternatif dari laut tersebut, sebagai salah satu upaya menghadapi krisis energi yang terjadi di masa kini. Satu kendala lagi adalah ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Bahkan untuk konversi BBM atau batubara ke gas alam, yang cadangan dan potensinya besar di Negara ini, itupun membutuhkan proses lama, dan masih besar keengganan untuk mengembangkan pembangkit energi terbarukan. Solusinya memang masih subsidi, dan subsidi sangat besar kaitannya dengan kebijakan, yang kemungkinan tiap 5 tahun bisa berganti.

2.5 Sikap Manusia yang Seharusnya
Energi adalah kebutuhan pokok dan bagian ketahanan nasional. Sebagai bagian masyarakat dunia, saya juga menyadari keserakahan yang telah kita dilakukan. Krisis energi yang kita alami saat ini tidak lepas dari keserakahan dan ketidaksensitivitas kita. Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, mengapa masih menggantungkan kebutahan energi dengan negara lain? Jawabannya karena sumber daya alam kita banyak diekploitasi dan diekspor ke maca negara. Kita masih minim teknologi karena pemikiran menuruti dinamika belum sepenuhnya membudaya, baik dikalangan mahasiswa maupun komponen masyarakat lainnya. Sebagai mahasiswa, sikap menuruti dinamika adalah langkah awal kita untuk membangun sensitivitas terhadap alam, baik melalui ilmu pengetahuan, teknologi, maupun sosial. Mahasiswa adalah komponen masyarakat penting dalam menyikapi kebutuhan energi nasional maupun internasional sehingga kita tidak semena-mena terhadap alam.

Masyarakat adalah following partisipant yang selalu mengikuti kondisi dan kebijakan. Mereka juga sebagai konsumen energi sehingga fokus utama (selain pengembangan teknologi, sosial, dan ilmu pengetahuan) dalam penerapan hemat energi. Pemerintah adalah pemimpin pasukan dalam menghadapi krisis dan sikap terhadap energi kesinambungan. Hemat energi adalah langkah awal dan sensitivitas terhadap energi adalah langkah menunjang penggalangan hemat (pengembangan Ilmu Pengetahuan, teknologi, dan sosial). Lanjutkan dan segera terapkan secara maksimal strategi Konservasi dan Diversifikasi Energi untuk Indonesia dan dunia.

2.6 Cara Mengatasi Krisis Energi 
Seperti yang kita ketahui banyak potensi yang dapat diandalkan sebagai sumber energi alternatif seperti bahan bakar nabati (biomasa) dan energi dari hidrologi. Energi alternatif terbaharukan adalah sumber energi selain dari minyak bumi (bahan bakar fosil) yang dihasilkan dari sumberdaya energi secara alamiah dan tidak akan habis sehingga dapat memenuhi kebutuhan energi secara berkelanjutan dengan syarat dikelola secara baik. Sebagai negara tropis, dengan potensi lahan, biodiversity dan negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tentunya kaya dengan beragam jenis sumber energi alternatif terbarukan seperti hydropower, geothermal, energi matahari, energi angin, biogas, biomasa, energi kelautan (arus pasang-surut, gelombang, dan OTEC=Ocean Thermal Energy Conversion) sampai ke bioenergi (biodiesel dan bioethanol). Keseluruhan sumber energi tersebut potensial untuk segera dikembangkan dalam rangka ketahanan energi nasional.

Potensi Indonesia sebagai negara bahari yang memiliki wilayah laut yang luas (75% seluruh wilayah Indonesia) dan negara kepulauan terbesar di dunia membuat Indonesia menyimpan energi kelautan yang besar, yaitu Energi gelombang Laut (Wave Energy), Energi Pasang Surut (Tidal Energy), Energi Panas Laut (Ocean Thermal Energy, OTEC), Energi Angin Laut (Ocean Wind Energy), bahkan dari laut kita juga terdapat sumber bioetanol dan biodiesel masa depan dari jenis alga laut (Botryococcus braunii).

Energi alternatif terbarukan tersebut dibangun untuk tujuan mengatasi permasalahan krisis energi bahan bakar fosil dan untuk ketahanan energi yang tentunya memiliki nilai strategis. Hal ini dikarenakan pengembangan energi alternatif terbaharukan akan memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan akibat pemanasan global dan memberikan multiplier effects dalam aktivitas ekonomi sehingga bermanfaat pada pemberdayaan ekonomi masyarakat secara luas. Dalam rangka pengembangan industri energi alternatif terbaharukan otomatis diperlukan tenaga kerja yang besar untuk mengoperasikannya, sehingga akan membuka lebar lapangan pekerjaan, bahkan dengan pembangunan industri energi tersebut akan mampu menghasilkan sejumlah multiplier effects ekonomi lainnya seperti transportasi, penyimpanan, teknologi, dan infrastruktur. Sehingga secara tidak langsung pembangunan industri energi akan dapat mengatasi masalah kurangnya lapangan pekerjaan dan kemiskinan. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi dasar untuk membangun industri energi alternatif terbaharukan.

Laut Solusi Krisis Energi
Ocean Energy Resources yang dimiliki Indonesia bisa dibilang yang terbaik dan terbesar di dunia. “Saya heran kenapa Indonesia belum berpikir untuk mengem¬bangkan ocean energy itu. Padahal, potensinya sangat luar biasa,” kata Hasyim Djalal, seorang pakar maritim dari Dewan Kelautan Indonesia (Dekin) kepada Indonesia Maritime Magazine.

Memang benar, Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah memulai melakukan pengembangan ocean energy. Namun, mungkin banyak yang tidak tahu jika ternyata alat-alat yang dipergunakan merupakan sumbangan dari Eropa. Pertanyaannya kemudian, apakah BPPT sudah mampu membangun sendiri mulai dari nol hingga menghasilkan listrik ? Ini tentunya masih perlu dibuktikan. Sebab, penguasaan teknologi tidak bisa hanya menghafal pelajaran sejarah, termasuk juga pengembangan dan penerapannya, melainkan juga harus diterapkan secara langsung oleh bangsa sendir. Tidak ada istilah alih teknologi di dunia ini, yang ada adalah pencurian teknologi dari bangsa asing yang bekerjasama dengan Indonesia.

Menurut Hasyim, penanganan sumber ocean energy ini melibatkan banyak pihak yang profesional, seperti ahli teknik perkapalan, ahli permesinan khususnya yang menguasai thermodynamic, ahli kelistrikkan, ahli konstruksi, ahli biota laut, ahli ekonomi dan banyak lagi. “Semua tenaga ahli yang disebutkan di atas dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karena itu sebaiknya kita masyarakat maritim atau yang mencintai bangsa ini perlu dari sekarang secara bertahap dan berkesinambungan untuk memikirkan pemanfaatan ocean energy ini,” ungkapnya.

Mungkin belum banyak yang mengetahui, bahwa cadangan minyak yang dimiliki Indonesia diperkirakan hanya untuk 25 tahun kedepan. Selanjutnya dari mana Negara ini akan mendapatkan energi listriknya? Jawabannya ada di laut, khususnya lautan yang berada di wilayah tropis.

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mengaku sependapat dengan Hasyim. Dia sendiri heran dengan persoalan listrik yang terus mendera negeri ini. Menurutnya, ditengah banyaknya masyarakat yang belum menikmati listrik, persediaan sumber energi sudah dikabarkan menipis. Namun, fenomena tersebut jangan lantas ditakutkan oleh Indonesia, jika kualitas manusia (SDM) di dalamnya dapat memanfaatkan dan mengelola potensi ocean energy. Karena, ocean energy merupakan alternatif energi terbaru termasuk sumberdaya non-hayati yang memilik potensi besar untuk dikembangkan.

Saat ini, pemerintah daerah hanya mengalokasikan dana pada daerah yang hanya mengalokasikan dana pada sesuatu yang tidak perlu atau menerima investasi ang beresiko terhadap lingkungan. “Kemampuan pengembangan teknologi ini selayaknya diperhatikan serta dijadikan tantangan guna mengantisipasi kesenjangan energi saat ini dan dimasa mendatang”.

Potensi laut mampu memenuhi empat kali kebutuhan listrik dunia, sehingga tidak mengherankan berbagai negara maju telah berlomba memanfaatkan energi laut itu. Dengan struktur teritorial negara Indonesia, maka kata dia, kita tidak perlu khawatir akan kehabisan sumber energi. Indonesia yang terlebak di garis khatulistiwa, hampir sepanjang tahun mendapat sinar matahari sekaligus memiliki lautan luas serta garis lingkar pantai yang panjang. Dengan perbedaan temperatur permukaan dan bagian dalam laut yang disebabkan oleh panas sinar matahari, maka, kata dia, mampu menyimpan banyak energi matahari yang berpotensial bagi umat manusia untuk dipergunakan. Tanda bahwa air laut mengadung arus listrik lanjutnya, adanya unsur Natrium Chlorida (NacL) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na dan CL. Dengan adanya partiikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik. Energi yang dihasilkan dari air laut pun memiliki keunggulan seperti ramah lingkungan dan tidak membutuhkan banyak dana.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan 
Ocean energy merupakan merupakan salah satu sumber energi alternatif yang memiliki potensi yang sangat tinggi, untuk di Indonesia sekitar 727 ribu MW. Indonesia adalah negara keempat yang memiliki panjang pantai terbesar keempat setelah Amerika, Kanada, dan Rusia, yaitu sekitar 95.181 km menurut data PBB tahun 2008. energi alternatif yaitu energi pasang surut, energi panas laut, energi gelombang laut, dan lain-lain. Energi samudra ada tiga macam, yaitu energi heat laut, energi pasang surut, dan energi gelombang Ocean Energy Resources yang dimiliki Indonesia bisa dibilang yang terbaik dan terbesar di dunia. Indonesia belum berpikir untuk mengem¬bangkan ocean energy itu. Padahal, potensinya sangat luar biasa.

3.2 Saran 
Akhirnya penulisan makalah ini telah selesai, saya sebagai penulis mengharapkan kritik dan sara yang membangun untuk perbaikan di waktu yang akan datang.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar
-->